|
Dra. SUDARWATI RORONG, MM Dari Kremil ke Panggung Dewan Di kawasan lokalisasi Kremil alias Tambakasri, Surabaya, siapa yang tak mengenal Sudarwati Rorong. Sosoknya yang sederhana sangat familiar di berbagai kalangan mulai dari anak-anak, pekerja seks, sampai para mucikari hingga preman di salah satu ‘kawasan merah’ Surabaya itu.
KREMIL memang bukan kawasan asing buat Sudarwati. Ketika resmi menikah dengan Willem Matius Rorong pada 1979, ia sah menjadi penduduk kawasan lokalisasi itu hingga sekarang. Sejak itu Sudarwati terlihat selalu hadir ketika sejumlah aksi sosial yang digelar di kampungnya. Dari sana juga, Sudarwati yang memulai karir sebagai guru sekolah dasar pada 1982 itu membangun imejnya sebagai politisi yang merakyat. Setelah beberapa kali berpindah ‘bendera’ dan terakhir menjadi aktivis Partai Damai Sejahtera (PDS), bahkan pernah gagal sebagai caleg pada pemilihan umum 1999, mantan politisi Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) itu akhirnya berhasil melenggang ke DPRD Kota Surabaya. Dari 50 anggota DPRD Surabaya periode 2009-2014, Sudarwati termasuk satu dari 15 perempuan anggota dewan. Sebagai minoritas, Sudarwati memang ingin menjadi politisi yang berbeda di mata rakyat. Namun, bukan lantaran itu jika perempuan 51 tahun itu tampil’nyeleneh’dengan berangkat naik becak dan bus kota ketika menghadiri pelantikannya sebagai wakil rakyat, Senin (24/8). Saat berkantor di gedung rakyat di hari keempat, Kamis (27/8), Sudarwati mengungkap alasan ia beraksi demikian kepada Radar Surabaya. Sudarwati juga bertutur sangat antusias tentang tugas-tugasnya ke depan. Apa kabar Ibu hari ini? Baik. Selamat atas pelantikan Ibu sebagai anggota dewan. Terima kasih. Sudah mulai sibuk? Kebetulan belum karena semua sedang dipersiapkan. Tata tertibnya saja belum dibuat. Tapi kok Ibu sudah rajin ngantor? Ada atau tidak ada tugas yang harus saya kerjakan, saya coba disiplin ngantor. Saya sudah tentukan jadwal untuk datang ke dewan pukul 09.00. Selain kemauan saya pribadi kebetulan empat anggota dewan dari PDS sepakat untuk melakukan tugas dengan baik. Lalu, bagaimana tugas Ibu sebagai kepala sekolah? Oh, itu tidak saya tinggalkan karena tugas sebagai pendidik sama pentingnya dengan menjadi wakil rakyat. Kebetulan sebagai kepala sekolah, saya lebih memfungsikan diri mengatur manajerialnya. Tinggal bagaimana mengaturnya dengan tugas baru ini. Setelah ngantor di TK-SD Bina Karya mulai pukul 06.30, baru saya akan ke dewan Masih berangkat dengan becak dan bus kota? Kebetulan untuk hari ini (Kamis, 27/8) tidak. Ada suami yang antar dengan mobil. Kemarin (Rabu, 26/8) diantar motor oleh anak sulung saya. Selanjutnya, sepertinya lebih enak naik motor sendiri karena itulah sarana utama saya untuk mobile selama ini meski ada mobil. Motor lebih fleksibel, cepat, dan tidak terjebak macet. Kalau bisa saya ajak anggota dewan lain untuk nyaman naik motor saja ke kantor. Kan lumayan itu jalan tidak terlalu macet karena berkurang 50 mobil. Lantas, apa maksud Ibu naik becak dan bus ketika menghadiri pelantikan sebagai anggota dewan? Pertama, saya memang ingin tampil beda dan merakyat pada hari pelantikan sebagai anggota dewan. Tapi bukan mencari sensasi atau perhatian. Itu sesuai janji saya untuk menepati ndzar jika terpilih sebagai wakil rakyat. Kedua, itu simbol yang harus saya ingat selama menjalankan tugas sampai 2014. Apa arti simbol yang Ibu maksud? Saya harus tetap merakyat. Tak hanya perilaku keseharian saya, namun juga hal-hal yang saya perjuangkan di dewan harus menyentuh kepentingan rakyat utamanya yang papa dan minoritas. Itu hanya bisa saya lakukan jika saya selalu berada di tengah-tengah rakyat. Bukan merakyat hanya di saat-saat tertentu saja. Jauh sebelum saya mbecak dan ngebis kemarin, merakyat sudah menjadi bagian gaya hidup saya. Bukan terbalik, ketika menjadi anggota dewan saya baru ingin merakyat. Kenapa Ibu berpikir harus merakyat ketika menjadi anggota dewan? Merakyat itu sudah naluriah setiap human being yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Lebih-lebih ketika menjadi anggota dewan yang dipilih rakyat ya harus merakyat. Bagi saya sendiri, itu juga harus menjadi panggilan jiwa setiap orang yang memutuskan menjadi wakil rakyat. Rakyat mana yang ingin Ibu perjuangkan? Kebetulan sesuai mandat dan amanah dari para pemilih saya, yaitu mereka yang mayoritas berasal dari kaum papa dan minoritas, utamanya yang berada di lokalisasi Kremil. Saat menjadi calon anggota legislatif dari Partai Damai Sejahtera untuk Daerah Pemilihan I (Krembangan, Simokerto, Bubutan, Genteng, Gubeng, Tegalsari), suara saya terbesar dari wilayah Krembangan. Merekalah yang memberikan kepercayaan kepada saya, sehingga saya berhasil duduk di dewan kali ini. Karena itu, saya tidak akan melupakan mereka. Tapi, sebagai anggota dewan, perjuangan saya juga untuk rakyat secara keseluruhan. Selama bergaul memperjuangkan kepentingan rakyat kecil, apa yang menarik dan menjadi pengalaman untuk tugas Ibu sekarang? Dari kondisi yang saya alami di lingkungan tempat tinggal saya, mereka yang dinilai sebagai ‘sampah masyarakat’ itu butuh sentuhan dengan kasih sayang. Jangan mereka dijauhi atau makin dicibirkan karena justru tak akan membangkitkan kepercayaan diri mereka untuk lepas dari masalah yang membelit. Cara yang termudah ya bergaullah dengan mereka dengan posisi setara. Ajaklah untuk melakukan kegiatan bersama. Saat itulah pelan-pelan kita akan bisa menasihati mereka bahkan bisa membawa mereka keluar dari masalah tanpa terasa. Ada pengalaman nyata tentang hal itu? Sudah banyak bukti yang saya tahu. Dari jumlah saja, jumlah PSK (pekerja seks komersial) dan mucikari banyak berkurang. Ketika saya baru tinggal di Tambakasri pada 1980-an, jumlah mereka sekitar 1.000 orang. Kini hanya tinggal 300-an. Mereka juga banyak yang sadar dan beralih profesi, bahkan ada yang menjadi pendeta dan memimpin gereja. Kesadaran mereka itu kita bina pelan-pelan dan terus-menerus. Apa yang mendasari keinginan Ibu memperjuangkan mereka? Ini sudah pilihan hidup bagi saya. Juga komitmen seluruh keluarga yang saya camkan bersama suami saya sejak awal perkawinan. Kaum papa dan minoritas dan mereka yang terpinggirkan juga seperti menjadi penyemangat perjuangan saya nanti di dewan. Jika komisi disusun, komisi apa yang ingin Ibu masuki? Komisi D. Katanya bukan komisi basah. Buat saya, tak ada istilah itu. Sebagai pendidik, saya ingin bekerja sesuai bidang yang saya kuasai. Banyak masalah pendidikan yang harus dibenahi selain masalah sosial dan budaya yang ditangani di Komisi D. Apa masalah pendidikan yang ingin Ibu benahi? Salah satunya sertifikasi guru. Sebagai guru di sekolah swasta, saya melihat kesenjangan kesejahteraan guru swasta (yang menengah ke bawah) dan guru negeri. Mestinya pemerintah juga memperhatikan percepatan sertifikasi guru swasta. Jangan hanya fokus pada guru negeri. Sebagai pendidik yang kini juga anggota dewan, apa ada yang berbeda dengan Ibu sekarang? Tidak ada yang berbeda kecuali tingkat kesibukan saya yang makin banyak. Kalaupun ada yang berbeda mungkin perjuangan saya untuk masyarakat bisa dilegalisir dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dewan. Semoga perjuangan saya untuk rakyat kecil lewat dewan akan lebih efektif. Kabarnya di sekolah tempat Ibu mengajar Ibu juga memperjuangkan kepentingan rakyat kecil. Begitulah. Sudah lima tahun ini saya upayakan untuk membebaskan SPP dan uang ekstrakurikuler ditambah bantuan alat-alat sekolah kepada anak-anak miskin. Setiap tahunnya kemampuan sekolah memberikan bantuan alat-alat sekolah itu meningkat seiring kepedulian donatur yang kami himpun. Tahun 2008 misalnya hanya untuk kelas 1 dan sekarang kelas 2. Yang terakhir ini tiba-tiba saja ada bantuan seseorang yang datang ke saya karena melihat aktivitas sosial saya selama ini. Agar bisa melakukan semua tugas-tugas di tengah-tengah masyarakat, menjalankan profesi dan di dewan, apa pedoman Ibu? Saya punya moto: hidup untuk melayani. Di mana pun tempatnya maka hal itu bisa diterapkan. Apalagi ketika menjadi anggota dewan sikap melayani itu harus lebih menonjol. Untuk tetap bisa mempertahankan diri menjalankan moto itu, apa resepnya? Kita harus percaya pada Tuhan. Jangan lupa berdoa karena pelayanan kita yang terbesar adalah kepada-Nya. Melaksanakan tugas-tugas kita di dunia hanya sebagian pelayaan kita pada Tuhan. Semoga tugas baru saya ini juga bagian dari melayani Tuhan. (*) |